PEMBENTUKAN SPERMA PADA IKAN

  • Dilihat: 50
  • 13 Agu

Keberhasilan suatu spesies ikan ditentukan oleh kemampuan ikan tersebut untuk bereproduksi dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan kemampuan untuk mempertahankan populasinya. Setiap spesies ikan mempunyai strategi reproduksi yang tersendiri sehingga dapat melakukan reproduksinya dengan sukses. Fungsi reproduksi pada ikan pada dasarnya merupakan bagian dari system reproduksi. Sistem reproduksi terdiri dari komponen kelenjar kelamin atau gonad, dimana pada ikan betina disebut ovarium sedang pada jantan disebut testis beserta salurannya. Pada kegiatan pembenihan kualitas sperma sangat menentukan keberhasilan dalam kegiatan pembuahan, sehingga sangat perlu diketahui pembentukan sprema dan tingkat kematangan sperma yang siap membuahi sel telur.

Gonad Ikan Jantan

Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi menghasilkan sel kelamin (gamet). Gonad ikan betina di namakan ovari dan gonad ikan jantan di namakan testis. Ovari dan testis ikan biasanya terdapat pada individu yang terpisah, kecuali pada beberapa ikan yang di temukan ganad jantan dan betina di temukan dalam satu individu (ovotestes). Gonad ikan terletak dekat anus memanjang ke depan mengisi rongga badan.

Testis ikan masing-masing terdiri sepasang yang terletak dalam rongga tubuh dibawah gelembung renang diatas usus dimana menempel pada rongga tubuh dibagian depan gelembung renang karena adanya jaringan pengikat yang disebut mesenterium. Ukuran pasangan testis ada yang sama panjang dan ada yang tidak dengan kata lain ukuran beragam tergantung spesies ikan, namun untuk ikan jenis air tawar umumnya pasangan testis sama panjang (Murtidjo, 2001). Menurut Billard (1986) struktur testis dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :

1. Struktur Lobular (Pada ikan umumnya)

Testis tipe lobular umumnya ditemukan pada Teleostei. Tipe lobular adalah gabungan lobuli yang terpisah satu sama lain dengan kulit luar dari kumpulan jaringan fibrosa. Dalam lobul spermatogonia primer mengalami proses meiosis berkali-kali untuk menghasilkan kista spermatogonia. Di luar lobul terdapat sel interstisial dan sel Sertoli, Lobul dengan germinalis epitelium yang berisi sel germinal, sel Sertoli, dan spermatosit. Spermiasi terjadi dalam lumen lobuler.  sehingga struktur ini proses spertogenesis sampai pada tahap spermiogenesis kista atau sel inti akan selalu mengembang dan akhirnya akan pecah melepaskan sperma kedalam lumen lobular secara terus menerus.

 2. Struktur Tubular (Spesies atheriniform ex. Guppy)

Lobuli terisi dengan pertumbuhan selsel spermatogenik yang terdapat pada pangkal lobul dan perkembangannya teratur, tak ada lumen, spermatogonia, sedangkan spermiasi terjadi pada ujung lobul yang berdekatan dengan ductus efferent. Pada struktur ini dalam testis terdapat rongga untuk menyimpan spermatozoa yang dikelompokkan dalam tabung-tabung yang disebut dengan spermatogenesis, kemudian kista germinal menuju bagian tengah dalam testis menuju saluran pengeluaran spermatozoa vas efferent.

Gambar 1. Skema Dua Jenis Testis Tubular (A) Lobular (B)

Proses Pembentukan Sperma

Proses spermatogenesis dibagi menjadi empat tahap (Hidayat, 2008) yaitu:

1) Tahap proliferasi, yaitu dimulai sejak sebelum lahir sampai saat setelah lahir. Bakal sel kelamin yang ada pada lapisan basal dari tubuli seminiferi melepaskan diri dan membelah secara mitosis sampai dihasilkan banyak sel spermatogonia;

2) Tahap tumbuh, yaitu spermatogonia membelah diri secara mitosis sebanyak empat kali sehingga dihasilkan 16 sel spermatogonia;

3) Tahap menjadi masak, yaitu sel spermatogonia menjadi sel spermatosit. Pada tahap ini terjadi pembelahan meiosis sehingga sel spermatosit primer berubah menjadi sel spermatosit sekunder. Kemudian sel spermatosit sekunder akan berubah menjadi spermatid bersamaan dengan pengurangan jumlah kromosom dari diploid (2n) menjadi haploid (n);

4) Tahap transformasi, yaitu terjadi proses metamorfosa seluler dari sel spermatid sehingga terbentuk sel spermatozoa.

 

Menurut  Murtidjo (2001), proses spermatogenesis dibagi menjadi dua tahap yaitu :

1). Spermatositogenesis, adalah pertumbuhan jaringan spermatogenik dengan pembelahan mitosis yang diikuti dengan pembelahan reduksi (meiosis). Pada fase ini spermatogonia mempunyai kemampuan memperbaharui diri, sehingga menjadi dasar spermatogonial stem cell, pada pembelahan meiosis jumlah kromosom dibagi dua sama banyak yaitu dari diploid (2n) menjadi haploid (n), sehingga pada saat yang bersamaan sel benih primordial juga berkembang menjadi spermatogonia yang selanjutnya akan berdiferensiasi menjadi spermatosit primer. Spermatosit primer akan berkembang menjadi spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder melalui pembelahan meiosis akan menghasilkan spermatid;

2). Spermiogenesis yaitu spermatid hasil dari tahapan  spermatositogenesis akan mengalami perubahan bentuk menjadi gamet yang bisa bergerak aktif.  Menurut Fujaya (1999), Pada proses ini akan terjadi perlepasan spermatozoa dari lumen lobulus masuk kedalam saluran sperma (proses spermiasi) sehingga spermatozoa akan bercampur dengan cairan sperma (milt). Gamet yang bisa bergerak ini disebut spermatozoa yang sempurna.

proses spermatogenesis dapat dilihat pada gambar dibawah ini. 

Gambar 2 : Gambar proses spermatogenesis

Spermatozoa ikan tergolong daalam tipe flagellate karena memiliki ekor flagellate yang panjang yang berfungsi untuk berenang Murtidjo (2001). Adapun bagian bagian dari sperma dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Berdasarkan bentuk daari kantung sperma dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :

  1. Kantung sperma yang tidak memilki vesikula seminalis.

Pada ikan jenis ini jika dilakukan pembuahan secara buatan maka sperma dapat dikeluarkan dengan cara di tripping (urut).

Misalkan pada ikan mas daan ikan patin

1. Kantung sperma yang memiliki vesikula seminalis.

Jika akan dilakukan pembuahan secara buataan maka dilakukan pengambilan kantong sperma dengan cara pembedahan,karena pada kontong sperma ini terdapat vesikula seminalis yang bergerigi, ukuran testis biasanya lebih kecil.

Misalkan pada ikan lele dan ikan baung

 Gambar 3. Kantung sperma ikan mas (a) Kantung sperma ikan lele (b)

Tingkat Kematangan Gonad

Kematangan gonad ikan pada umumnya adalah tahapan pada saat perkembangan gonad sebelum dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Secara garis besar, perkembangan gonad ikan dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap pertumbuhan gonad ikan sampai ikan menjadi dewasa kelamin dan selanjutnya adalah pematangan gamet. Tahap pertama berlangsung mulai ikan menetas hingga mencapai dewasa kelamin, dan tahap kedua dimulai setelah ikan mencapai dewasa, dan terus berkembang selama fungsi reproduksi masih tetap berjalan normal. Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan cara morfologi adalah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat.

Tingkat kematangan gonad (TKG) menunjukkan suatu tingkatan kematangan sexual ikan dengan pengelompokan kematangan gonad ikan berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada gonad  maksudnya adalah mewakili keadaan tahap-tahap perkembangan kematangan gonad.

Tingkat kematangan gonad tidak semuanya sama, sesuai dengan ukuran dan spesies yang ada, bahkan untuk ikan yang spesiesnya sama namun sebarannya berbeda lebih dari lima derajat maka akan terdapat perbedaan ukuran dan umur sehingga tingkat kematangan gonad yang dimiliki juga akan berbeda. Untuk menentukan tingkat kematangan gonad dapat dilihat secara morfologi ikan yaitu bentuk, ukuran, panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad (Effendie, 2002).

Gambar 4 : sperma matang

Menurut Sjafie (2008) tingkat kematangan gonad untuk ikan catfish beerbeda-beda sesuai dengan jenis spesies. Hal ini dikarenakan penilaian tingkat kematangan gonad sifatnya yang subjektif, sering terjadi perbedaan tahap TKG baik karena perbedaan observer maupun perbedaan waktu. Adapun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tingkat kematangan gonad pada ikan Selais (Ompok hypophthalmus)  adalah sebagai berikut:

  1. Tingkat perkembangan testis I (awal pertumbuhan) Testes seperti benang, lebih pendek dan terlihat ujung jadi rongga tubuh, warnanya jernih akan terlihat seperti buli-buli kecil yang halus dan berwarna putih susu bening. Spermatogonium melekat di membran sel dan sebagian telah berkembang menjadi spermatosit primer.) tingkat ini dinamakan belum matang (immature) atau  fase istirahat (resting stage).
  2. Tingkat perkembangan testis II (berkembang/developing) terlihat dari ukuran testis lebih besar dan kelompok buli-buli yang kecil mengisi 1/5 dari rongga perut. Berwarna putih susu bening dengan permukaan licin. pada stadia ini masih ditemukan spermatogonium dalam jumlah yang sedikit karena telah berkembang menjadi spermatosit
  3. Tingkat perkembangan testis III ( dewasa) ditunjukkan dengan ciri kelompok buli-buli yang semakin membesar dan telah mengisi I /4 dari rongga perut. Secara histologi spermatosit primer berkurang karena sebagian besar telah berkembang menjadi spermatosit sekunder. Spermatid sudah mulai terlihat dan letaknya menyebar di dalam tubulus.  Pada tingkat perkembangan ini proses spermatozoa mulai berjalan, tingkat ini dinamakan pematangan (maturing).
  4. Tingkat perkembangan testis IV (mature/ripe/gravid, matang) dicirikan dengan ukuran testis semakin membesar dan mengisi 1/3 dari rongga perut. Kelompok buli-buli semakin besar dan pejal dan berwarna putih susu pekat. Dilihat dari preparat histologi nampak bahwa spermatid sudah mulai memenuhi tubulus. Terjadi proses spermiogenesis (spermatid menjadi spermatozoa). Pada akhir spermiogenesis, spermatozoa dilepaskan ke dalam lumen tubulus, tahap ini dicirikan dengan terjadinya proses spermiogenesis (Spermiating) dan spermatozoa telah mengisi rongga lobular dan saluran sperma .
  5. Tingkat  perkembangan testis V (spent / salin) secara morfologi ditunjukkan dengan mengempisnya buli-buli berwama putih bening dan pada bagian tertentu kosong karena sperma telah dikeluarkan pada saat pemijahan. Pada tingkat perkembangan salin (spent) masih dijumpai spermatogonium yang akan berkembang menjadi spermatosit, spermatid dan spermatozoa untuk pemijahan berikutnya.

Sedangkan menurut Murtidjo (2001) tingkat kematangan gonad pada ikan jantan melalui tahap-tahap sebagai berikut :

  1. Fase pertumbuhan I (Remaja), testis sangat kecil, transparan sampai kelabu
  2. Fase pertumbuhan II (Remaja berkembang), testis jernih berwarna abu-abu sampai kemerah-merahan.
  3. Fase perkembangan I, testis berbentuk bulat telur berwarna kemerahan karena lebih banyak pembuluh darah kapiler. Testes mengisi hamper setengah bagian rongga badan ventral.
  4. Fase perkembangan II, testis berwarna kemerahan sampai putih, tidak keluar sperma jika perut di tekan. Testis mengisi kurang lebih dua per tiga rongga badan bagian bawah.
  5. Fase dewasa, testis berwarna putih dan keluar cairan sperma jika ditekan bagian perutnya.
  6. Fase mijah, sperma keluar jika bagian perut di tekan pelan-pelan
  7. Fase Mijah/salin, testes belum kosong sama sekali.
  8. Fase pulih salin, testes jernih, bewarna abu-abu sampai kemerahan

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi TKG

Menurut Effendie 2002), tingkat kematangan gonad ikan dipengaruhi oleh Faktor luar antara lain dipengaruhi oleh suhu dan adanya lawan jenis, faktor dalam antara lain perbedaan spesies, umur serta sifat-sifat fisiologi lainnya. Untuk ikan yang berada didaerah bermusim tingkat kematangan gonad dipengaruhi oleh suhu dan makanan, akan tetapi untuk ikan yang hidup didaerah tropik perubahan suhu tidak begitu besar, umumnya gonad dapat masak lebih cepat.

 Perkembangan gamet ini dipengaruhi oleh faktor dalam maupun luar. Faktor internal ini biasanya berkaitan dengan faktor eksternal, misalnya produksi hormon reproduksi dipengaruhi oleh kondisi luar (suhu, cahaya, makanan, lawan jenis) bahkan perubahan kelamin pun dapat pula sebagai akibat pengaruh lingkungan. Pemberian hormon kelamin tertentu dapat merubah kelamin ikan (Sjafei et al., 2008).

 

Ditulis oleh :

RIKA PUTRI, S.St.Pi, M.P

Widyaiswara BPPP Tegal

You have no rights to post comments

Statistik Pengunjung

Kami memiliki 90 tamu dan tidak ada anggota online