KAITAN ANTARA TEORI NILAI DAN ETIKA

  • Dilihat: 6
  • 12 Feb

MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SOSIAL

Manusia adalah makhluk sosial yang saling perlu dan memerlukan antara satu sama lain. Sejak dilahirkan sehingga akhir hayat, memberi dan menerima pertolongan merupakan dua amalan yang biasa bagi seorang manusia yang normal. Semasa masih bayi lagi, seseorang memerlukan pertolongan daripada orang sekeliling untuk menerus dan memenuhi kehendak-kehendak asas seperti makan, minum dan seumpamanya. Oleh itu, menolong dan ditolongi merupakan fitrah semula jadi yang ada dalam diri setiap manusia. Budaya ikram atau budaya saling tolong menolong juga merupakan amalan yang mulia yang boleh mewujudkan keharmonian dalam sesebuah masyarakat.

 

Keingintahuan seseorang mengenai suatu kebenaran menimbulkan adanya gagasan. Ketika gagasan diolah untuk menjelajah pemahaman yang lebih luas tetapi mendasar maka akan menghasilkan suatu ilmu yang disebut dengan filsafat. Berkaitan dengan ilmu pengetahuan filsafat ditujukan untuk pengembangan dan inovasi pengertian baru yang dapat dijadikan landasan di dalam suatu masalah yang berhubungan. Dari hal tersebut member pandangan bahwa berbagai ilmu lahir dari filsafat, sehingga pengajaran mengenai filsafat sangat diperlukan.

 

PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan yang pada mulanya untuk menemukan pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan, dalam kenyataannya bisa memunculkan dampak negatif yang demikian hebat bagi kehidupan manusia. Perkembangan pengetahuan ilmiah harus ditingkatkan karena pengetahuan, perbuatan, ilmu, nilai dan etika makin saling bertautan. Berulang kali harus diambil keputusan dalam menerapkan secara praktis pengetahuan ilmiah. Semuanya itu memperlihatkan suatu perpaduan dari pertimbangan moral ilmiah.

Untuk membuktikan apakah isi pengetahuan itu benar, perlu berpangkal pada teori-teori kebenaran pengetahuan. Teori pertama bertitik tolak adanya hubungan dalil (proposisi) itu mempunyai hubungan dengan dalil (proposisi) yang terdahulu. Kedua, pengetahuan itu benar apabila ada kesesuaian dengan kenyataan. Teori ketiga menyatakan, bahwa pengetahuan itu benar apabila mempunyai konsekuensi praktis dalam diri yang mempunyai pengetahuan itu.

Sebuah karya hasil dari produk ilmu pengetahuan harus dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun berdasarkan teori “nilai” dan “etika”. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui hubungan dan kaitan antara teori nilai dan etika dalam ilmu pengetahuan.

 

TEORI NILAI DAN ETIKA

Jika kita bicara tentang penelitian ilmiah, maka bentuk paling kongkrit dari sebuah teori adalah sebuah pernyataan tertulis, sebagaimana yang dapat kita baca sebagai bagian dari sebuah buku teks atau bagian dari artikel di jurnal ilmiah. Kita lalu mengutipnya, dan menyebut siapa penulis atau pencetusnya. Sebab itulah seringkali sebuah teori dalam laporan penelitian semata-mata adalah sebuah kutipan dari seorang ilmuwan tertentu.

 

NILAI

Menurut Sulaiman (1992), nilai adalah segala sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau buruk sebagai abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat. Dari pendapat tersebut dapat dikatakan, bahwa dalam kehidupan masyarakat nilai merupakan sesuatu untuk memberikan tanggapan atas perilaku, tingkah laku, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat baik secara kelompok maupun individu. Nilai yang muncul tersebut dapat bersifat positif apabila akan berakibat baik, namun akan bersifat negatif jika berakibat buruk pada obyek yang diberikan nilai.

Sedangkan menurut Mardiatmadja (1986), nilai menunjuk pada sikap orang terhadap sesuatu hal yang baik. Nilai-nilai dapat saling berkaitan membentuk suatu sistem dan antara yang satu dengan yang lain koheren dan mempengaruhi segi kehidupan manusia. Dengan demikian, nilai-nilai berarti sesuatu yang metafisis, meskipun berkaitan dengan kenyataan konkret. Nilai tidak dapat kita lihat dalam bentuk fisik, sebab nilai adalah harga sesuatu hal yang harus dicari dalam proses manusia menanggapi sikap manusia yang lain.

Nilai-nilai sudah ada dan terkandung dalam sesuatu, sehingga dengan pendidikan membantu seseorang untuk dapat menyadari dengan mencari nilai-nilai mendalam dan memahami kaitannya satu sama lain serta peranan dan kegunaan bagi kehidupan.

Nilai-nilai adalah harapan dan gambaran yang lebih umum tentang perilaku manusia, yang mungkin sadar atau tertanam secara sangat dalam sehingga tidak dapat dirumuskan secara verbal. Dengan demikian, nilai-nilai dapat didefinisikan sebagai gambaran yang abstrak, kolektif yang manusia percaya bahwa hal itu adalah benar, baik dan layak untuk dicapai (anonimus, 2013)

Menurut Merdiatmedja (1986), ada hubungan antara bernilai dengan kebaikan nilai berkaitan dengan kebaikan yang ada dalam inti suatu hal. Jadi nilai merupakan kadar relasi positif antara sesuatu hal dengan orang tertentu. Antara lain, nilai praktis, nilai sosial, nilai estetis, nilai kultural/budaya, nilai religius, nilai susila/moral. 

Kedua pendapat diatas berbicara masalah kebaikan, sikap dan norma-norma yang merupakan penjabaran dari nilai, pendapat-pendapat tersebut tidak dapat lepas dari kebudayaan seperti yang dikemukakan oleh Suminto (2000) bahwa kebudayaan sebagai suatu konsep yang luas, yang didalamnya tercakup adanya sistem dari pranata nilai yang berlaku termasuk tradisi yang mengisyaratkan makna pewarisan norma-norma, kaidah-kaidah, adat istiadat dan harta-harta cultural. Kebudayaan yang di dalamnya terdapat nilai perlu upaya pelestarian. Melalui pendidikan akan menyadarkan kepentingan dalam nilai budaya.

 

MACAM-MACAM NILAI

Lintang (2013), dalam filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam, yaitu :

a) Nilai logika adalah nilai benar salah

b) Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah

c) Nilai etika/moral adalah nilai baik buruk

Berdasarkan klasifikasi di atas, kita dapat diambil contoh dalam kehidupan. Jika seorang siswa dapat menjawab suatu pertanyaan, ia benar secara logika. Apabila ia keliru dalam menjawab, kita katakan salah. Kita tidak bisa mengatakan siswa itu buruk karena jawabanya salah. Buruk adalah nilai moral sehingga bukan pada tempatnya kita mengatakan demikian.

Contoh nilai estetika adalah apabila kita melihat suatu pemandangan, menonton sebuah pentas pertunjukan, atau merasakan makanan, nilai estetika bersifat subjektif pada diri yang bersangkutan. Seseorang akan merasa senang dengan melihat sebuah lukisan yang menurutnya sangat indah, tetapi orang lain mungkin tidak suka dengan lukisan itu. Kita tidak bisa memaksakan bahwa lukisan itu indah.

Lintang (2013) mendefinisikan nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral. Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia. Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari.

Lintang (2013) menyebutkan adanya 3 macam nilai. Ketiga nilai itu adalah sebagai berikut :

a) Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia atau kebutuhan ragawi manusia.

b) Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas.

c) Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.

Nilai kerohanian meliputi :

1) Nilai kebenaran yang bersumber pada akal (rasio, budi, cipta) manusia.

2) Nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsure perasaan (emotion) manusia.

3) Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak (karsa, Will) manusia.

4) Nilai religius yang merupakan nilai keohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia.

 

ETIKA

Menurut Wilujeng (2012) etika adalah cabang dari filsafat yang membicarakan tentang nilai baik-buruk. Etika disebut juga Filsafat Moral. Etika membicarakan tentang pertimbangan-pertimbangan tentang tindakan-tindakan baik buruk, susila tidak susila dalam hubungan antar manusia. Etika dari bahasa Yunani ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Sedangkan moral dari kata mores yang berarti cara hidup atau adat.

Sedangkan Anonimous (2013) menyatakan bahwa etika adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana berperilaku jujur, benar dan adil. Etika merupakan cabang ilmu filsafat, mempelajari perilaku moral dan immoral, membuat pertimbangan matang yang patut dilakukan oleh seseorang kepada orang lain atau kelompok tertentu. Di samping filsafat telah berkembang menjadi ilmu-ilmu khusus, di dalam filsafat sendiri mempunyai cabang-cabang yang terus berkembang sesuaia dengan perkembangan permasalahan yang dihadapi.

Salam (1987), menyebutkan bahwa etika adalah sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Sebagai cabang filsafat, etika sangat menekankan pendekatan yang kritis dalam melihat dan menggumuli nilai dan norma moral tersebut serta permasalahan-permasalahan yang timbul dalam kaitannya dengan nilai dan norma moral tersebut.

Cabang filsafat yang pokok adalah : ontologi-epistemologi-metodologi-logika-etika-estetika. Cabang-Cabang filsafat ini merupakan lingkaran pertama, selanjutnya masih ada lingkaran kedua seperti: filsafat sosial, filsafat politik, filsafat kukum, filsafat ekonomi, filsafat agama, dan lingkaran ke tiga seperti: filsafat ilmu, filsafat kebudayaan, filsafat bahasa, filsafat lingkungan.

Etika pada dasarnya merupakan penerapan dari nilai tentang baik buruk yang berfungsi sebagai norma atau kaedah tingkah laku dalam hubungannya dengan orang lain, sebagai espektasi atau apa yang diharapkan oleh masyarakat terhadap seseorang sesuai dengan status dan peranannya, dan etika dapat berfungsi sebagai penuntun pada ssetiap orang dalam mengadakan kontrol social (Ridwan, 2003).

Dari definisi etika diatas, Nurdiansyah (2012) mengatakan bahwa etika berhubungan dengan empat hal sebagai berikut.:

1) Dilihat dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia.

2) Dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat. Sebagai hasil pemikiran, maka etika tidak bersifat mutlak, absolute dan tidak pula universal. Ia terbatas, dapat berubah, memiliki kekurangan, kelebihan dan sebagainya.

3) Dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya. Etika lebih mengacu kepada pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.

4) Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relative yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman.

 

FUNGSI ETIKA

Fungsi dari etika menurut Al Rasyid (2015) adalah sebagai berikut :

1) Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan berbagai moralitas yang membingungkan

2) Etika ingin menampilkan keterampilan intelektual yaitu keterampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis

3) Orientasi etis ini diperlukan dalam mengambil sikap yang wajar dalam suasana pluralisme.

Dalam kehidupan sehari-hari pengertian etika sering disamakan dengan moral, bahkan lebih jauh direduksi sekedar etiket. Moral berkaitan dengan penilaian baik-buruk mengenai hal-hal yang mendasar yang berhubungan dengan nilai kemanusiaan, sedang etika berkaitan dengan sikap dalam pergaulan, sopan santun, tolok ukur penilaiannya adalah pantas-tidak pantas.

Istilah etika mempunyai pengertian yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan manusia, seperti dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Segala bentuk kegiatan manusia senantiasa tidak akan lepas dari adanya berbagai aturan norma, baik aturan pemerintah, agama, maupun aturan adat dan tradisi masyarakat yang bersangkutan.

 

PRINSIP ETIKA

Ulfah (2015) menjabarkan etika ke dalam beberapa prinsip, yaitu :

a) Prinsip Otonomi

Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan tuntunan hati nuraninya, kesadarannya sendiri mengenai sesuatu kebaikan untuk diberian kepada orang lain.

b) Prinsip Kejujuran

Prinsip kejujuran dalam setiap tindakan atau perikatan kegiatan merupakan keutamaan. Misalnya dalam perikatan perjanjian dan kontrak tertentu, semua pihak saling percaya satu sama lain, bahwa masing-masing pihak tulus dan jujur membuat perjanjian dan kontrak, serius, tulus dan jujur melaksanakan perjanjian. Kejujuran sangat penting artinya bagi kepentingan masing-masing pihak, kejujuran sangat menentukan keberlanjutan relasi dan kelangsungan bisnis selanjutnya.

c) Prinsip Keadilan

Tindakan memberikan keadilan terhadap keterlibatan semua pihak dalam kegiatan usaha merupakan praktek keutamaan. Prinsip keadilan perlu dilakukan agar setiap orang dalam kegiataan usaha secara internal maupun eksternal perusahaan diperlakukan sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing.

d) Prinsip Saling Menguntungkan

Kegiatan usaha perlu memberikan keadaan saling menguntungkan kepada keterlibatan setiap pihak dalam usaha tersebut, hal tersebut merupakan cerminan prinsip keutamaan. Saling menguntungkan merupakan cermin integritas moral internal pelaku usaha atau perusahaan agar nama baik pribadi atau nama baik perusahaan untuk berbisnis tetap terjaga, dipercaya dan kompetitif.

 

NORMA ETIKA

Etika dapat dibedakan ke dalam beberapa norma (Djoko, 2018), sebagai berikut :

a) Norma sopan santun sering disebut dengan etiket, yaitu norma yang mengatur pola perilaku manusia secara lahiriah. Misalnya bagaimana kita makan di depan umum, bagaimana kita berbicara dan sebagainya. Norma ini tidak memberikan nilai apakah seseorang itu baik atau tidak, tetapi perilaku dan sikap orang itu sopan atau tidak. Di sini kita dapat membedakan etika dengan etiket. Etika adalah ilmu tentang perilaku manusia, sedangkan etiket adalah bagaimana kesopanan seseorang di depan yang lain. Sayangnya dalam kehidupan sehari-hari kita menyamakan pengertian etika dengan etikat yang diartikan sebagai ilmu tentang perilaku dengan kesopanan seseorang.

b) Norma hukum adalah norma yang dituntut keberlakukannya dalam kehidupan sehari-hari demi kepentingan hidup bersama dalam masyarakat. Karena itu norma ini dapat dikatakan cita-cita, harapan dari masyarakat untuk memiliki kehidupan bersama yang baik. Norma ini mengikat seluruh anggota masyarakat tanpa kecuali. Perlu dicatat bahwa norma hukum adalah positivasi norma moral yang hidup dalam kehidupan masyarakat. Hukum itu sendiri harus netral, tidak memihak golongan tertentu dan memberikan jaminan serta harapan akan keadaan yang lebih baik. Bagi mereka yang melanggar norma hukum dikenakan sanksi atau hukuman yang harus dijalani agar nama baiknya dipulihkan.

c) Norma moral adalah aturan perilaku manusia sebagai manusia. Adapun fokus penilaian dalam norma moral ialah tanggung jawab seseorang tentang apa yang dilakukan. Karenanya norma moral menuntut kedewasaan seseorang. Memang norma moral tidak menjatuhkan hukuman bagi yang melanggarnya namun sebenarnya norma ini menuntut harus ditaati tanpa memandang sanksi atau hukumannya.

1) Norma moral mengatur perilaku manusia sebagai manusia serta tanggung jawabnya. Jangan sampai seseorang perilakunya merugikan masyarakat;

2) Norma moral tidak dapat diubah oleh keputusan dari siapa pun bahkan oleh penguasa sekalipun. Karena itu orang akan marah, muak, jengkel jika ada orang yang melanggar norma moral;

3) Norma moral akan memunculkan perasaan tertentu yang menghargai kehidupan manusia sebagai manusia.

Kehidupan manusia senantiasa diilhami suatu naluri untuk mencapai tujuan hidup. Tujuan hidup yang didambakan adalah memperolah kebahagiaan lahir dan batin. Sikap dan perilaku pada hakikatnya adalah merupakan pencerminan kepribadian dan kesadaran moral dalam kehidupan masyarakat. Interaksi manusia sebagai anggota masyarakat menunjukan adanya saling membutuhkan, saling melengkapi, saling mengisi dan saling bertolak dari hal tersebut. Timbullah suatu ilmu analisis di bidang moral atau etika.

 

KAITAN TEORI NILAI DAN ETIKA

Nilai dan etika senantiasa saling berkaitan dalam setiap kegiatan.. Dalam pengertian inilah maka kita memasuki wilayah etika sebagai penutup sikap dan tingkah laku manusia. Sedangkan hubungan moral dengan etika sangat erat sekali dan kadangkala kedua hal tersebut di samakan begitu saja. Namun sebenarnya kedua hal tersebut memiliki perbedaan. Moral merupakan suatu ajaran-ajaran ataupun wewenang-wewenang, patokan-patokan, kumpulan peraturan, baik lisan maupun tertulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik. Sedangkan Etika tidak berwenang menentukan apa yang boleh atau tidak boleh di lakukan oleh seseorang.

Antara etika dan nilai tidaklah dapat dipisahkan. Tidak ada suatu pendidikan yang tidak mengajarkan nilai dan etika. Itu artinya semua manusia harus melakukan hal yang tidak bertentangan dengan hukum dan aturan, baik yang bersifat formal maupun non formal. Jika semua manusia melakukan hal yang sesuai dengan nilai dan etika, secara otomatis mereka telah melakukan nilai-nilai etika/moralitas yang berkenan bagi semua orang dan akan menjadi modal mereka untuk menjalankan kehidupan.

Etika sebagai sebuah nilai yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah laku di dalam kehidupan, tentunya tidak akan terlepas dari tindakantindakan tidak ethis. Tindakan tidak ethis yang dimaksudkan disini adalah tindakan melanggar etika yang berlaku dalam lingkungan kehidupan tersebut.

Etika juga tidak terlepas dari hukum urutan kebutuhan (needs theory). Menurut kerangka berfikir Maslow, maka yang paling pokok adalah bahwa kebutuhan jasmaniah terpenuhi terlebih dahulu, agar dapat merasakan urgensi kebutuhan estrem dan aktualisasi diri sebagai profesional.

Nilai dan etika adalah elemen penting melakukan kegiatan apapun, terlebih dalam dunia pendidikan dan penelitian ilmiah. Tanpa etika dan nilai-nilai maka ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak dapat bermakna dengan baik, terutama dikehidupan bermasyarakat.

Etika dan nilai selalu mengutamakan kejujuran dan moralitas, kedua unsur ini apabila tidak dimasukkan dalam unsur ilmu pengetahuan maka akan terjadi kegiatan-kegiatan yang tidak bertanggungjawab. Hal ini akan sangat berbahaya terlebih yang berhubungan dengan manusia dan lingkungannya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 Al Rasyid, Harun. 2015. Teori Etika dan Profesi. http://harunalrasyid.blogspot.co.id/Teori-Etika-dan-Profesi.html. diakses pada 12 Desember : 14.20.

 Lintang. 2013. Konsep Tentang Etika Moral dan Nilai. http://alfallahu.blogspot.co.id/2013/04/Konsep-Tentang-Etika-Moral-dan-Nilai_10.html. diakses pada 13 Desember 2015 : 11.38.

 Merdiatmedja. 1986. Hubungan Nilai dengan Kebaikan. Jakarta : Sinar Harapan.

 Nurdiansyah, Rahmad. 2012. Hubungan Agama Etika dan Nilai. http://ekonomipintar.blogspot.com/Hubungan-Agama-Etika-dan-Nilai.html. diakses pada 12 Desember 2015 : 12.39.

 Ridwan, Edward. 2003. Kaitan Antara Filsafat, Etika Dan Nilai-Nilai Dengan Profesi Pekerjaan Sosial. Medan : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial-Universitas Sumatera Utara.

 Salam, Burhanudin. 1997. Etika Sosial : Asas Moral Dalam Kehidupan Manusia.  Jakarta : PT Rineka Cipta.

 Sayuti, Suminto A. 2000. Makalah Proses Kreatif Perubahan Sosila dan Imperatif Pendidikan Kesenian Kita. Yogyakarta : Program Studi Pendidikan Seni Tari FBS UMY.

 Sulaiman, Munandar. 2005. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung : RefikaAditama.

 Ulfah, Maria. 2015. Prinsip Otonomi, Kejujuran dan Keadilan Pada Etika Bisnis. https://mariaulfah56.wordpress.com/2015/12/05/prinsip-otonomi-kejujuran-dan-keadilan-pada-etika-bisnis/. Diakses pada 11 Februari 2019 : 11.15.

 Wilujeng, Sri Rahayu. 2012. Filsafat, Etika dan Ilmu : Upaya Memahami Hakikat Ilmu Dalam Konteks Keindonesiaan. Depok : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

 

Oleh : Lutfi Jauhari, S.St.Pi, M.Si

Widyaiswara Muda BPPP Tegal

 

Statistik Pengunjung

Kami memiliki 163 tamu dan tidak ada anggota online