KELAS DAN STATUS SOSIAL BUDAYA DALAM MASYARAKAT NELAYAN

  • Dilihat: 4
  • 19 Mar

MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SOSIAL

Manusia adalah mahkluk sosial yang hidup dalam masyarakat. Sejak kecil sampai dengan kematiannya, manusia tidak pernah hidup sendiri tetapi selalu berada dalam suatu lingkungan sosial yang berbeda satu sama lainnya. Struktur sosial merupakan tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Susunannya bisa vertikal maupun horizontal. Konsep struktur sosial menekankan pada pola perilaku individu dan kelompok, yaitu pola perilaku berulang-ulang yang menciptakan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat. Seseorang dapat belajar tentang struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat merupakan salah satu tempat untuk berinteraksi.

Bentuk dari struktur sosial yang susunannya secara vertikal atau bertingkat dan pembagian masyarakat ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan sistem pelapisan sosial disebut dengan stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial dapat muncul dengan sendirinya sebagai akibat dari proses yang terjadi dalam masyarakat. Faktor-faktor penyebabnya adalah kemampuan atau kepandaian, umur, fisik, jenis kelamin, sifat keangotaan masyarakat dan harta benda.

Adanya penilaian yang berbeda dari suatu kelompok terhadap kelompok lain berdasarkan sesuatu yang dianggap lebih, mengakibatkan timbulnya suatu stratifikasi sosial. Dengan demikian, struktur sosial yang berjalan secara sistematik dapat mengakibatkan terbentuknya stratifikasi sosial.

Kelas merupakan golongan sosial yang merujuk kepada perbedaan hierarkis antara anggota masyarakat. Status (kedudukan) merupakan posisi yang dimiliki oleh para anggota masyarakat. Dan kekuasaan merupakan kemampuan orang-orang atau kelompok untuk memaksakan kemampuan mereka pada pihak lain, sekalipun terdapat perlawanan lewat penolakan, baik dalam bentuk menahan imbalan yang diberikan atau dalam bentuk hukuman.

Sebagai sebuah entitas sosial, masyarakat nelayan memiliki sistem budaya tersendiri dan berbeda dengan masyarakat lain, seperti masyarakat petani, perkotaan atau pun masyarakat yang hidup di dataran tinggi. Masyarakat nelayan merupakan unsur sosial yang sangat penting dalam struktur masyarakat pesisir, kebudayaan yang mereka miliki mewarnai karakteristik kebudayaan dan perilaku sosial budaya masyarakat pesisir secara umum.

 KELAS SOSIAL

Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan dan setiap masyarakat pasti mempunyai atau memiliki sesuatu yang dihargainya. Sesuatu yang dihargai inilah sesungguhnya merupakan embrio atau bibit yang menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis, didalam masyarakat itu. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tertentu, akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya.

Biasanya barang yang di hargai itu berupa uang, benda-benda yang bersifat ekonomi, tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan penghargaan yang lebih tinggi di masyarakat tersebut seperti keturunan dari keluarga yang terhormat atau pangkat. Jika ada sekelompok kecil dari masyarakat yang memiliki barang-barang berharga itu dalam jumlah yang besar, maka masyarakat umumnya menganggap mereka sebagai kelompok atau golongan yang berada pada lapisan atas. Sebaliknya dengan mereka yang memiliki sedikit sekali atau hampir tidak memiliki barang sesuatu yang berharga itu, punya kedudukan yang rendah dimata masyarakat.

 

DEFINISI KELAS SOSIAL

Adapun definisi dari kelas sosial menurut para ahli sosiologi ialah :

a) Menurut Pitrim A. Sorokin yang dimaksud dengan kelas sosial adalah “Pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarchis). Dimana perwujudannya adalah lapisan-lapisan atau kelas-kelas tinggi, sedang, ataupun kelas-kelas yang rendah ”.

b) Menurut Peter Beger mendifinisikan kelas sebagai “a type of stratification in which one’s general position in society is basically determined by economic criteria” seperti yang dirumuskan Max dan Weber, bahwa konsep kelas dikaitkan dengan posisi seseorang dalam masyarakat berdasarkan criteria ekonomi, maksudnya disini adalah bahwasannya pembedaan kedudukan seseorang dalam masyarakat berdasarkan kriteria ekonomi. Yang mana apabila semakin tinggi perekonomian seseorang maka semakin tinggi pula kedudukannya, dan bagi mereka perekonomiannya bagus (berkecukupan) termasuk kategori kelas tinggi (high class ), begitu juga sebaliknya bagi mereka yang perekonomiannya cukup bahkan kurang, mereka termasuk kategori kelas menengah ( middle class ) dan kelas bawah ( lower class).

c) Jeffries mendefinisikan kelas sosial merupakan “social and economic groups constituted by a coalesence of economic, occupational, and educational  bonds”. Maksudnya adalah bahwa konsep kelas melibatkan perpaduan antara ikatan-ikatan. Yang diantaranya adalah ekonomi, pekerjaan dan pendidikan. Yang mana ketiga dimensi tersebut saling berkaitan. Jeffries mengemukakan bahwa ekonomi bukanlah satu-satunya dasar yang dijadikan pedoman untuk mengklasifikasikan adanya kelas sosial, akan tetapi ketiga dimensi diatas mempunyai keterikatan yang erat. Seperti contoh orang yang mempunyai ekonomi yang bagus (kaya) belum tentu mempunyai pendidikan yang bagus (sarjana). Menurut Jeffries pendidikan dan pekerjaan juga merupakan aspek penting dari kelas, karena pendidikan sering menjadi prasyarat untuk seseorang mendapatkan pekerjaan yang layak.

d) Bernard Barber mendefinisikan kelas sosial sebagai sebagai himpunan keluarga-keluarga. Menurutnya, bahwa kedudukan seorang anggota keluarga dalam suatu anggota kelas terkait dengan kedudukan anggota keluarga lain. Bilamana seorang kepala keluarga atau anggota keluarga menduduki suatu status tinggi maka status anggota keluarga yang lain akan mendapatkan status yang tinggi pula. Sebaliknya apabila status kepala keluarga mengalami penurunan maka menurun pula status anggota keluarganya.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli sosiologi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kelas sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarchis), yang mana terjadinya pembedaan kelas dalam masyarakat tersebut didasarkan pada factor ekonomi, pendidikan, pekerjaan dan keterkaitan status (jabatan) seorang anggota keluarga dengan status anggota keluarga yang lain, bilamana jabatan kepala keluarga naik, maka status anggota keluarga yang lain ikut naik pula. Adapun perwujudannya adalah lapisan-lapisan atau kelas-kelas tinggi, sedang, ataupun kelas-kelas yang rendah. 

 

FAKTOR-FAKTOR PENGGOLONGAN KELAS SOSIAL

Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang tergolong kedalam suatu kelas sosial tertentu itu oleh sejumlah ilmuwan sosiologi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

a) Kekayaan dan penghasilan

Uang diperlukan pada kedudukan kelas sosial atas. Untuk dapat memahami peran uang dalam menentukan kelas sosial, kita harus menyadari bahwa pada dasarnya kelas sosial merupakan suatu cara hidup. Diperlukan banyak sekali uang untuk dapat hidup menurut cara hidup orang berkelas sosial atas.

Mereka mampu membeli rumah mewah, mobil, pakaian, dan peralatan prabot rumah yang berkelas dan harganya mahal, namun tidak saja hanya berdasarkan materi akan tetapi cara bersikap juga menentukan kelas social mereka. Uang juga memiliki makna yang lain, misalnya penghasilan seseorang yang diperoleh dari investasi lebih memiliki prestise daripada penghasilan yang diperoleh dari tunjangan pengangguran.

Penghasilan yang terjadinya pembedaan kelas dalam masyarakat tersebut didasarkan pada factor ekonomi, pendidikan, pekerjaan dan keterkaitan status (jabatan) seorang anggota keluarga dengan status anggota keluarga yang lain, bilamana jabatan kepala keluarga naik, maka status anggota keluarga yang lain ikut naik pula.

b) Pekerjaan

Pekerjaan merupakan determinan kelas sosial lainnya. Pekerjaan juga merupakan aspek kelas sosial yang penting, karena begitu banyak segi kehidupan lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Jika dapat mengetahui jenis pekerjaan seseorang, maka kita bisa menduga tinggi rendahnya pendidikan, standar hidup, teman bergaul, jam bekerja, dan kebiasaan sehariharinya.

Kita bahkan bisa menduga selera bacaan, selera tempat berlibur, standar moral dan orientasi keagamaannya. Dengan kata lain, setiap jenis pekerjaan merupakan bagian dari cara hidup yang sangat berbeda dengan jenis pekerjaan lainnya.

Keseluruhan cara hidup seseoranglah yang pada akhirnya menentukan pada kelas sosial mana orang itu digolongkan. Pekerjaan merupakan salah satu indikator terbaik untuk mengetahui cara hidup seseorang. Oleh karena itu juga pekerjaan merupakan salah satu indikator terbaik untuk mengetahui kelas sosial seseorang.

  c) Pendidikan

Pendidikan merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap lahirnya kelas sosial dimasyarakat, hal ini disebabkan karena apabila seseorang mendapatkan pendidikan yang tinggi maka memerlukan biaya dan motivasi yang besar, kemudian jenis dan tinggi- rendahnya pendidikan juga mempengaruhi jenjang kelas sosial. Pendidikan juga bukan hanya sekedar memberikan kerampilan kerja, tetapi juga melahirkan perubahan mental, selera, minat, tujuan, etiket, cara berbicara hingga perubahan dalam keseluruhan cara hidup seseorang.

Berdasarkan pemaparan diatas dapat penulis simpulkan bahwa penghasilan, pekerjaan dan pendidikan merupakan tiga indikator yang cukup jelas yang membuat seseorang dapat digolongkan kedalam suatu kelas sosial. Ketiga indikator ini juga biasa dimanfaatkan oleh para ilmuwan dalam mengklasifikasikan kelas sosial, dan ketiga indikator ini juga dinyatakan lebih objektif jika digunakan untuk tujuan penelitian.

 

MACAM-MACAM KELAS SOSIAL

Dikalangan para ahli sosiologi kita menjumpai keanekaragaman dalam penentuan jumlah lapisan sosial. Marx misalnya, membagi jumlah lapisan sosial menjadi dua, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Mosca membedakan antara kelas yang berkuasa dan kelas yang dikuasai, antara orang kaya dan orang miskin.

Namun sejumlah ilmuwan sosial membedakan menjadi tiga kelas atau lebih, yakni :

a) Kelas atas, kelas ini ditandai oleh besarnya kekayaan, pengaruh baik dalam sektor-sektor masyarakat perseorangan ataupun umum, berpenghasilan tinggi, tingkat pendidikan yang tinggi, dan kestabilan kehidupan keluarga.

b) Kelas menengah, kelas ini di tandai oleh tingkat pendidikan yang tinggi, penghasilan dan mempunyai penghargaan yang tinggi terhadap kerja keras, pendidikan, kebutuhan menabung dan perencanaan masa depan, serta mereka dilibatkan dalam kegiatan komunitas.

c) Kelas bawah, kelas ini biasanya terdiri dari kaum buruh kasar, penghasilannya pun relatif lebih rendah sehingga mereka tidak mampu menabung, lebih berusaha memenuhi kebutuhan langsung daripada memenuhi kebutuhan masa depan, berpendidikan rendah, dan penerima dana kesejahteraan dari pemerintah. 

 

STATUS SOSIAL

Status sosial biasanya didasarkan pada berbagai unsur kepentingan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu status pekerjaan, status dalam sistem kekerabatan, status jabatan dan status agama yang dianut. Dengan status seseorang dapat berinteraksi dengan baik terhadap sesamanya, bahkan banyak dalam pergaulan sehari-hari seseorang tidak mengenal orang lain secara individu, melainkan hanya mengenal statusnya saja.

Status merupakan kedudukan seseorang yang dapat ditinjau terlepas dari individunya. Jadi status merupakan kedudukan obyektif yang member hak dan kewajiban kepada orang yang menempati kedudukan tadi.

Kedudukan (status) sering kali dibedakan dengan kedudukan sosial (social status). Kedudukan adalah sebagai tempat atau posisi seseorangdalam suatu kelompok sosial, sehubungan dengan orang lain dalam kelompok tersebut, atau tempat suatu kelompok sehubungan dengan kelompok-kelompok lain di dalam kelompok yang lebih besar lagi. Sedangkan kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain, dalam arti kewajibannya. Dengan demikian kedudukan sosial tidaklah semata-mata merupakan kumpulan kedudukan-kedudukan seseorang dalam kelompok yang berbeda, tapi kedudukan sosial tersebut mempengaruhi kedudukan orang tadidalam kelompok sosial yang berbeda. Namun, untuk mendapatkan pengertian yang mudah kedua istilah tersebut akan digunakan dalam pengertian yang sama, yaitu kedudukan (status).

 

DEFINISI STATUS SOSIAL

Status sosial menurut Ralph Linton adalah sekumpulan hak dan kewajian yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya. Orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.

Sedangkan status sosial menurut Mayor Polak adalah status dimaksudkan sebagai kedudukan sosial seorang oknum dalam kelompok serta dalam masyarakat. Status mempunyai dua aspek. Pertama, aspeknya yang agak stabil, dan kedua, aspeknya yang lebih dinamis. Polak mengatakan bahwa status mempunyai aspek struktural dan aspek fungsional. Pada aspek ruang pertama sifatnya hirarki, artinya mengandung perbandingan tinggi atau rendahnya secara relative terhadap status-status lain. Sedangkan aspek yang kedua dimaksudkan sebagai peranan sosial (social role) yang berkaitan dengan status tertentu, yang dimiliki oleh seseorang.

Kemudian menurut Spencer status sesorang atau sekelompok orang dapat ditentukan oleh suatu indeks. Indeks seperti ini dapat diperoleh dari jumlah rata-rata skor, misalnya yang dicapai seseorang dalam masing-masing bidang seperti pendidikan, pendapatan tahunan keluarga, dan pekerjaan dari kepala rumah tangga (breadwinner).

Adapun status dalam stratifikasi sosial adalah tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial dalam masyarakat, sehubungan dengan orang-orang lain dalam kelompok tersebut atau masyarakat.

Setiap masyarakat pasti mempunyai atau memiliki sesuatu yang dihargainya. Sesuatu yang dihargai inilah sesengguhnya merupakan embrio atau bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis, di dalam masyarakat itu. Biasanya barang dihargai itu mungkin berupa uang, benda-benda yang punya sifat ekonomi, tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, sesolehan dalam agama atau juga keturunan dari keluarga yang terhormat.

Biasanya diantara banyak status yang dimiliki sesorang, salah satu statusnya yang tertinggi (atau dianggap tertinggi oleh masyarakat) merupakan cirri identitas sosialnya yang terpokok. Pekerjaan seseorang, biasanya dianggap sebagai status tetap dan tertinggi, walaupu tidak senantiasa demikian halnya. Hal ini antara lain disebabkan karena penghasilan pekerjaan tertentu juga dapat menentukan tinggi rendahnya status seseorang.

 

JENIS STATUS SOSIAL

Macam-Macam / jenis-jenis status sosial :

  1. Ascribed Status

Ascribed status adalah tipe status yang didapat sejak lahir seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya.

  1.  Achieved Status

Achieved status adalah status sosial yang didapat sesorang karena kerja keras dan usaha yang dilakukannya. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain.

  1. Assigned Status

Kadang-kadang dibedakan lagi satu macam kedudukan, yaitu assigned status, yang merupakan kedudukan yang diberikan.Artinya dalam suatu kelompok atau golongan memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada seseorang yang berjasa, yang lebih memperjuangkan seseuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Akan tetapi, kadang-kadang kedudukan tersebut diberikan karena seseorang telah lama menduduki suatu kepangkatan tertentu.

 

STRATIFIKASI STATUS SOSIAL

Ada dua sifat dari sistem pelapisan dalam masyarakat, yaitu bersifat tertutup (closed social stratification), dan bersifat terbuka (opened sosial stratification). Sistem pelapisan masyarakat yang bersifat tertutup membatasi kemungkinan berpindahnya seseorang dari lapisan satu ke lapisan yang lain, baik ke lapisan atas ataupun ke lapisan yang lebih rendah. Dalam sistem tertutup seperti ini satu-satunya cara untuk menjadi anggota suatu lapisan tertentu dalam masyarakat adalah karena kelahiran, seperti kasta. Sedangkan dalam sistem terbuka, setiap anggota setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kemampuannya sendiri. Apabila mampu dan beruntung seseorang dapat untuk naik ke lapisan yang lebih atas, atau bagi mereka yang tidak beruntung dapat turun ke lapisan yang lebih rendah.

 

KELAS SOSIAL NELAYAN

Dalam masyarakat nelayan kelas sosial dibagi menjadi beberapa :

  1. Kelas atas

Kelas atas pada masyarakat nelayan terdiri atas nelayan pemilik atau juragan. Kesejahteraannya relatif sangat baik, karena umumnya nelayan pemilik adalah pemegang modal usaha. Pada sistem bagi hasil penangkapan ikan yang dilakukan adalah dengan rasio 50 : 50, artinya setelah hasil lelang ikan tangkapan, setelah pendapatan dikurangi modal maka sisanya dibagi menjadi 2, 50 % untuk juragan dan 50 % untuk kru kapal. Hal inilah yang menyebabkan tingkat perekonomian nelayan pemilik sangat  baik dan menempatkan nelayan pemilik pada kasta kelas sosial pada kelas atas.

  1. Kelas menengah

Kelas menengah pada masyarakat nelayan terdiri atas Nahkoda, Kepala Kamar Mesin, dan Juru Mudi. Jabatan-jabatan tersebut lebih dikenal dengan istilah perwira kapal. Orang-orang yang menduduki jabatan tersebut memperoleh hasil dari pembagian hasil lelang pada porsi yang menengah. Faktor inilah yang menempatkan nelayan perwira pada kasta kelas sosial menengah.

  1. Kelas bawah

Kelas bawah pada masyarakat nelayan terdiri atas nelayan pekerja atau yang dikenal dengan Anak Buah Kapal (ABK). ABK adalah kelompok mayoritas. Dari sisi pendapatan, kelompok ini memperoleh penghasilan paling kecil diantara dua kelas diatas. Kalaupun mereka berusaha memiliki sendiri alat produksi, umumnya masih sangat konvensional, sehingga produktivitasnya kurang berkembang. Faktor inilah yang menempatkan kelompok ABK pada kasta kelas sosial bawah.

 

STATUS SOSIAL NELAYAN

Status sosial nelayan dikelompokkan berdasar tingkat ekonomi, pendidikan dan kedudukan di masyarakat.

  1. Status sosial berdasar tingkat ekonomi

status sosial ini dikelompokkan atas dasar kelas sosial yang ada yaitu kelas nelayan pemilik/juragan, kelas nelayan perwira dan kelas ABK. Ada juga status sosial berdasar tingkat ekonomi nelayan dikarenakan keturunan. Awalnya para orang tua nelayan yang ada adalah memang orang-orang kaya atau juragan, sehingga keturunannya tinggal meneruskan usaha warisan dari orang tua. Banyak yang tambah sukses dalam meneruskan usaha warisan orang tua, namun tidak sedikit yang malah hancur usahanya.

  1. Status sosial berdasar tingkat pendidikan

Berdasarkan tingkat pendidikan, nelayan dikelompokkan menjadi tiga :

1) Jenjang pendidikan mulai dari tidak sekolah sampai lulus Sekolah Menengah Pertama. Untuk kelompok ini biasanya dominan menduduki kelas sosial bawah. Jabatan diatas kapal sebagai ABK. Namun ada juga yang hanya berbekal pendidikan SD memiliki jabatan sebagai seorang nahkoda, karena faktor pengalaman, sertifikasi dan kompetensi yang dimiliki.

2) Jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Menengah Atas sampai pendidikan Diploma 2. Untuk kelompok ini dominan menduduki kelas sosial menengah. Jabatan diatas kapal sebagai perwira. Ada juga yang memiliki jenjang pendidikan kelompok 2 ini berstatus sebagai juragan kapal, dikarenakan faktor keturunan.

3) Jenjang pendidikan mulai dari Diploma 3 sampai dengan Strata 1. Untuk kelompok ini biasanya menduduki kelas sosial atas. Jabatannya sebagai nelayan pemilik atau juragan kapal.

  1. Status sosial berdasar kedudukan dalam masyarakat

Perbedaaan status yang berdasar kedudukan di dalam masyarakat dikenal dengan istilah stratifikasi sosial. Dalam stratifikasi sosial pembedaan penduduk digolongkan secara bertingkat (hierarchis). Pembedaan ini adalah hasil kebiasaan hubungan antar manusia yang tersusun sehingga setiap orang, setiap saat mempunyai situasi yang menentukan hubungannya dengan orang secara vertikal maupun mendatar dalam masyarakatnya.

Pada masyarakat nelayan, terdapat kelompok-kelompok yang dibentuk sesuai dengan bidang usaha atau kegiatan yang ada. Sebagai contoh:

1) Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan

2) Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) hasil perikanan

3) Kelompok Pembudidaya Perikanan (Pokdakan)

4) Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas)

Dalam kelompok-kelompok dibentuk struktur organisasi yang sederhana terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan anggota. Pembentukan struktur organisasi tersebut berdasar atas kesepakatan bersama seluruh anggota. Struktur tersebut kemudian dikukuhkan oleh lembaga pemerintah terkait.

Organisasi kemasyarakatan

 

SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT NELAYAN

Sebagai suatu kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh, dan berkembang di wilayah pesisir atau wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir, masyarakat nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermatapencaharian sebagai nelayan2. Walaupun demikian, di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan, petambak, atau pembudidaya perairan, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan (Ginkel, 2007). Baik nelayan, petambak, maupun pembudidaya perairan merupakan kelompok-kelompok sosial yang langsung berhubungan dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan.

Aspek sosial budaya yang dimaksud disini meliputi tiga sistem yaitu :

  1. Sistem gotong royong pada masyarakat nelayan tampak dalam kehidupan ekonomi nelayan antara pemilik nelayan dengan nelayan buruh dalam kegiatan menangkap ikan di laut, misalnya peminjaman modal, barang atau alat seperti perahu untuk melaut. Selain itu gotong royong dalam hal kemanusiaan maupun kegiatan-kegiatan yang ada misalnya peringatan hari-hari besar tertentu maupun kegiatan yang ada disekitar perkampungan. Kegiatan gotong royong dapat membantu ekonomi masyarakat nelayan.
  2. Sistem keluarga dan kekerabatan pada masyarakat nelayan secara tidak langsung saling mempengaruhi mulai dari kegiatan menangkap ikan atau pekerjaan sampai perekrutan buruh nelayan. Keluarga adalah pusat ketenangan hiup dan pangkal yang paling vital. Dengan adanya kerabat sekitar yang masih memilki hubungan darah dapat membantu individu dalam kegiatan ekonomi. Keluarga dan kerabat merupakan salah satu bagian yang sangat penting dan berpengaruh untuk kelangsungan hidup masyarakat. Dengan adanya keluarga dekat individu dapat saling bekerja sama.
  3. Sistem kepercayaan yang ada pada masyarakat nelayan memiliki pengaruh bagi kegiatan ekonomi. Masyarakat nelayan memiliki kepercayaan dan agama yang dianut sebagai pedoman dan tuntunan hidup. Dalam bekerja masyarakat masih menggunakan kepercayaan dan agama untuk memperoleh penghasilan misalnya adanya pantanganpantangan melaut pada hari-hari tertentu dan berdoa sebelum berangkat.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 Afriani, Ade Yunaifah. 2010. Sosiologi Masyarakat Nelayan. Diunduh dari http://www.bppp-tegal.com/web/index.php/artikel/80-artikel/122-sosiologi-masyarakat-nelayan. tanggal 4 Januari 2015 : 17.40.

 Apriani, Riski. 2009. Kehidupan Sosial Budaya Dalam Kaitannya Dengan Perilaku Ekonomi Masyarakat Nelayan (Studi Terhadap Kemiskinan Di Kelurahan Muarareja Kecamatan Tegal Barat Kota Tegal). Fakultas Ilmu Sosial. Jurusan Sosiologi dan Antropologi. Universitas Negeri Semarang. Semarang.

 Anonimous. 2012. Stratifikasi Sosial dan Diferesiasi Sosial.

 Dahuri, Rokhmin.  2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Pradya Paramita. Jakarta.

 Desyanti, Anitya. 2012. Rumah Susun di Muarareja Kota Tegal. Universitas Pancasakti. Tegal.

 Kusnadi. 2010. Kebudayaan Masyarakat Nelayan. Jurusan Sosiologi Universitas Jember. Jember.

 Feruzia, Soraya. 2015. Dampak Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Secara Kolaboratif Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor.

 Maniku, S.F.S., Sinolungan, J.S.V., Opod H. 2014. Hubungan Kebahagiaan Dengan Status Sosial Pada Keluarga Di Kelurahan Tanjung Batu. Jurnal E-Biomedik. Vol. 2 No. 3 Tahun 2014.

 Singgih, Dodi Sumbodo. 1997. Prosedur Analisis Stratifikasi Sosial Dalam Perspektif Sosiologi. Jurusan  Sosiologi FISIP. Universitas Airlangga.

 Soekanto, Soerjono. 1992. Memperkenalkan Sosiologi. Rajawali. Jakarta.  

 Sugihen, Bahrein T.1997.  Sosiologi Pedesaan. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 

Susanto, Astrid S. 1983. Pengantar Sosiologi. Bina Aksara. Jakarta.

Syani, Abdul. 2012. Sosiologi Sistematika, Teori, dan Terapan. Bumi Aksara. Jakarta.  

 

Ditulis oleh :

 

Lutfi Jauhari, S.St.Pi, M.Si

 

Widyaiswara Muda BPPP Tegal

 

Statistik Pengunjung

Kami memiliki 111 tamu dan tidak ada anggota online