MASALAH DAN KENDALA PRODUKSI GARAM RAKYAT

  • Dilihat: 4786
  • 10 Okt

Kegiatan produksi garam rakyat menghadapi 6 (enam) masalah utama yaitu teknologi , teknis produksi, iklim, produktifitas lahan, kualitas produksi serta sarana dan prasarana.

1.Teknologi

Didalam pembuatan garam masyarakat    petani garam menggunakan cara yang sangat sederhana yaitu menguapkan air laut didalam petak pegaraman dengan tenaga sinar matahari tanpa sentuhan teknologi apapun, sehingga walaupun bahan baku melimpah namun salinitas dan polutan yang terlarut sangat beragam, disamping itu areal pegaraman terpencar-pencar dan kepemilikan lahan oleh rakyat sempit , adapun hal – hal yang lain adalah sebagai berikut :

a. Areal sarana

Luas areal pada pegaraman rakyat yang dimiliki secara perorangan sangat kecil yaitu berkisar antara 0,5 sampai dengan 5 hektar per unit dengan penataan petak peminihan dengan petak kristalisasi yang tidak memenuhi persyaratan dimana petak peminihan lebih sangat luas dibandingkan dengan petak kristalisasi , sedangkan petak penampungan air muda hanya mengandalkan parit atau selokan yang berada di sekitar petak – petak peminihan ..Untuk meyalurkan air laut ke penampungan air muda sangatlah sempit serta dangkal apa lagi tidak dilengkapi pompa sehingga sangat sulit untuk mempercepat perolehan air muda , begitu pula pada saat panen jalan sebagai sarana tranportasi untuk mengangkut hasil panennya jauh dari lokasi sehingga hal ini akan menambah biaya pengangkutan.

b. Proses

Secara umum dalam proses produksi garam rakyat adalah total kristalisasi , dimana air tua yang berada dimeja peminihahan bila dianggap mencukupi kepekatanya langsung dialirkan kemeja – meja kristalisasi, dengan harapan seluruh air tua yang ada dimeja kristalisasi semua akan menjadi kristal garam, padahal air tua tersebut akan meningkat kepekatanya yaitu mencapai lebih dari 29º Be dan pada kondisi ini sulit untuk membuang air tua tersebut, karena apabila air tua tersebut menjadi kristal garam akan terdapat kristal garam yang terasa pahit. Selain hal tersebut juga didalam pemadatan atau pengolahan meja kristalisasi  kurang bagus atau kurang padat sehingga pada saat pemanenan kemungkinan permukaan meja tanahnya akan ikut terbawa sehingga warna kristal garam akan menjadi keruh atau coklat. Pada umumnya petani garam akan melakukan pemanenan pada saat kristal garam berumur 3 atau 5 hari sehingga hal ini akan membuat kristal garam belum kelihatan tua  atau masih banyak kandungan air  sehingga petani tidak bisa meningkatkan hasil produksinya, tetapi disisi lain kenapa petani melakukan tindakan tersebut atau panen awal karena pendapatan petani hanya mengandalkan dari poduksi garam itu saja.

c.  Produktifitas :

Produktifitas rata – rata petani garam berkisar 60 ton per hektar permusim dikarenakan petakan – petakan proses produksi garam masih belum tertata secara benar atau  tetap sama secara turun temurun tanpa sentuhan teknologi apapun

d. Mutu garam

Garam yang dihasilkan dalam  bentuk kristal yang kecil dan rapuh hal ini dikarenakan pada proses pelepasan air tua yang belum saatnya serta waktu pemanenan yang terlalu pendek yakni berkisar 3 s.d 5 hari dengan warna yang buram serta kwalitasnyapun masih dibawah standart dimana kandungan atau kadar NaCl 88 – 92,5 % . Kadar Ca 0,22 - 0,25%, kadar SO3  0,70 -1,15% dan kadar Mg  0,63 – 0,92 %

Adapun sebagai perbandingan antara produksi garam rakyat dengan PT garam adalah seperti uraian dibawah ini : 

TABEL

1. Teknis Produksi

Peralatan dan cara produksi masih sederhana, saluran air bahan baku tidak tertata sehingga pasokan air sebagai bahan baku tidak kontinyu, Kemampuan petani garam didalam mengolah lahan garam untuk peningkatan produksi  terpusat di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, sedangkan SDM di Indonesia Timur kualitasnya masih harus ditingkatkan.

2. Iklim

Musim kemarau di pulau jawa relative pendek yaitu berkisar 4 s.d. 5 bulan pertahun dengan kelembaban yang tinggi, sehingga produktivitas garam pertahun rendah, sedangkan untuk Indonesia timur musim kemarau hingga 7 s.d. 8 bulan

3. Produktivitas Lahan

Produktivitas lahan garam rakyat rata – rata masih rendah yaitu sekitar 60 ton/ha/musim 

4. Kualitas Produk

Kualitas produk tidak seragam dengan kandungan zat pencemar yang tinggi. Sehingga untuk peningkatan kualitas atau pemurnian kristal garam melalui pencucian menyebabkan naiknya biaya, oleh Karena itu garam rakyat cenderung dijual dengan kualitas seadanya. Sebagai perbandingan garam konsumsi produksi PT. Garam mengandung NaCl 95 – 97 %, sedangkan garam rakyat mengandung NaCl lebih kecil dari 95%.

5. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana garam rakyat belum tertata dan kurang memadai. Tata letak pegaraman rakyat umumnya tidak teratur dan terpencar-pencar, sarana jalan yang menghubungkan petak/lahan dengan jalan raya atau sungai sebagai sarana transportasi hampir dikatakan tidak ada atau tidak memadai. Hal ini menyebabkan biaya angkut ke tepi jalan raya (transportasi ke atas truk pengangkut) menjadi tinggi sehingga pendapatan pembudidaya garam pada umumnya menjadi lebih kecil karena dipotong biaya transport yang cukup besar.

DAFTAR PUSTAKA

1. Aris Kabul, 2011. Ramsol,Dirjen KP3K Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia , Jakarta.

2. Buku Panduan Pembuatan Garam Bermutu 2002. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.Pusat Riset Wilayah Laut dan  Sumberdaya  Nonhayati. Proyek Riset Kelautan dan Perikanan

3. Pemberdayaan Garam Rakyat.2003. Direktorat Jendral Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan

(Drajat, S.Pi, Widyaiswara BPPP Tegal)

Add comment


Security code
Refresh

Statistik Pengunjung

Kami memiliki 119 tamu dan tidak ada anggota online