EFEK PEMANASAN GLOBAL BAGI CLOWN FISH

  • Dilihat: 928
  • 08 Jan

Pemanasan global (Global Warming) adalah meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer yang akhirnya menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi. Berubahnya komposisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, dimana konsentrasi gas rumah kaca tersebut meningkat secara global akibat kegiatan manusia dan menyebabkan sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa, sebagian besar terperangkap di dalam bumi akibat terhambat oleh GRK tadi.

Gas Rumah Kaca (GRK) seperti CO2 (Karbon dioksida), CH4 (Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) yang berada di atmosfer dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu GRK juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian dan peternakan. GRK yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida, metana, dan nitroksida, menyebabkan meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer.

Energi dari matahari memacu cuaca dan iklim bumi serta memanasi permukaan bumi; sebaliknya bumi mengembalikan energi tersebut ke angkasa. Gas rumah kaca pada atomsfer (uap air, karbondioksida dan gas lainnya) menyaring sejumlah energi yang dipancarkan, menahan panas seperti rumah kaca. Tanpa efek rumah kaca natural ini maka suhu akan lebih rendah dari yang ada sekarang dan kehidupan seperti yang ada sekarang tidak mungkin ada. Jadi gas rumah kaca menyebabkan suhu udara di permukaan bumi menjadi lebih nyaman sekitar 60°F/15°C.

Pemanasan global telah banyak mempengaruhi kehidupan mahluk hidup yang ada didunia ini, baik kehidupan yang ada di daratan maupun kehidupan yang ada di lautan.

Pemanasan global menyebabkan naiknya suhu dan permukaan air laut. Dasar lautan yang semakin dalam menyebabkan sinar matahari semakin sulit untuk menjangkau tempat hidup Algae dan coral. Hal ini tentu akan menganggu kemampuan zooxanthellae untuk berfotosintesis, yang akhirnya berdampak pada pasokan nutrisi dan warna karang serta dapat memicu produksi kimiawi berbahaya yang merusak sel-sel mereka. Coral akan mati meninggalkan bongkahan kalsium kapur (CaCO3) berwarna putih jika perairan tidak segera mendingin sesuai batasan hidupnya (Jones et al., 1998; Hoegh-Guldberg dan Jones, 1999).

Naiknya suhu dan permukaan air laut pada dasarnya merupakan dua kendala yang menjadi penyebab kerusakan dan kepunahan terumbu karang. Hewan karang akan menjadi stres apabila terjadi kenaikan suhu lebih dari 2-3 derajat celcius di atas suhu air laut normal.

Contoh yang paling nyata adalah yang terjadi pada ikan nemo (clown fish). Ikan indah yang terdiri dari sebuah tubuh berwarna jeruk kuning dengan garis-garis putih dilengkapi dengan lapisan hitam sepanjang sirip atau badan hitam dengan kuning/daerah oranye sepanjang tubuh bagian bawah dan sirip. Dihiasi bar putih atau patch. Yang terbesar mencapai panjang 18 cm (7.1 inch), sedangkan terkecil hampir mencapai 10 cm (3,9 inch).

Dari penelitian yang dipimpin oleh peneliti Profesor Philip Munday dari James Cook University (JCU) yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences journal menunjukkan bahwa peningkatan karbon dioksida (C02) dapat menyebabkan permukaan air laut menjadi lebih asam sehingga dengan tingginyapengasaman dapat mengganggu larva ikan dalam merasakan bau dan menemukan rumahnya yang cocok.
Penelitian juga telah menemukan bahwa peningkatan asam dapat menyebabkan ikan jenis ini kurang hati - hati dan tertarik ke predator.

Sebagai bagian dari studinya, peneliti meletakkan larva clownfish dan damselfish ke dalam air laut yang keadaannya sama jika berada di lingkungan atmosfir yang mengandung karbon dioksida dengan kadar 700 dan 850 ppm, yang diperkirakan keadaan air laut ini akan terjadi diakhir abad ini. Mereka menemukan bahwa setelah empat hari, setengah dari larva ini pada keadaan CO2 700 ppm kurang mampu mencium predator, sementara semua larva pada keadaan CO2 850 ppm tertarik ke predator.

Damselfishkemudian dilepaskan ke terumbu dimana ikan - ikan ini menjadi lebih aktif dan bersikap lebih berani dari biasanya, menghabiskan waktu dekat penampungan dan lebih sering mendekati predatornya. Tingkat kematian mereka 5 hingga 9 kali dari pada ikan yang lahir normal pada kondisi CO2 390 ppm.

Ikan nemo (clown fish) dan terumbu karang hanya sebagian contoh dari berbagai masalah yang disebabkan oleh adanya pemanasan global. Untuk itu diperlukan usaha yang nyata untuk mengurangi masalah ini. Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan penanaman pohon sebanyak mungkin. Dan yang paling penting dari semuanya adalah adanya kesadaran dari kita untuk menjaga lingkungan mulai dari saat ini yang akan bermanfaat untuk kehidupan nanti.

 

 

Referensi :

Ø  Surakusumah W., Perubahan Iklim Dan Pengaruhnya Terhadap Keanekaragaman Hayati; Makalah Perubahan Lingkungan Global ; Jurusan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia

Ø  http://earthcare555.blogspot.com/2010/07/peningkatan-co2-akan-menyebabkan-ikan.html, diunduh 4 Januari 2012

Ø  http://mbojo.wordpress.com/2008/07/17/hubungan-efek-rumah-kaca-pemanasan-global-dan-perubahan-iklim/Hubungan Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, 17 Juli 2008 — La An.diunduh Desember 2012

(Trias Wahyuning P., Widyasiwara BPPP Tegal)

 

Add comment


Security code
Refresh

Statistik Pengunjung

Kami memiliki 117 tamu dan tidak ada anggota online