OVERFISHING DAN FULLY EXPLOITED SERTA UPAYA MENGHINDARINYA

  • Dilihat: 259
  • 05 Okt

Overfishing

Overfishing adalah merupakan kegiatan penangkapan atau menangkap ikan tanpa memperhatikan keseimbangan dari ekologi laut dan berlebihan, sehingga berdampak pada berkurangnya hasil tangkapan dan memburuknya keadaan ekosistem laut sehingga tidak dapat lagi dimanfaatkan. Dari sisi yang lebih sederhana, overfishing berarti upaya penangkapan yang berlebihan terhadap suatu stok ikan. Secara umum, ciri-ciri perikanan yang mulai mengalami tangkap lebih adalah waktu melaut yang lebih lama, lokasi penangkapan yang semakin jauh, ukuran mata jaring semakin kecil, yang kemudian diikuti dengan penurunan produktivitas (hasil tangkapan per trip).

Ada 6 jenis macam overfishing jika digolongkan berdasarkan kerusakannya, yaitu;

1. Growth Overfishing

Ikan ditangkap sebelum mereka sempat tumbuh mencapai ukuran dimana peningkatan lebih lanjut dari pertumbuhan akan mampu membuat seimbang dengan penyusutan stok yang diakibatkan oleh mortalitas alami (misalnya pemangsaan) pencegahan growth overfishing meliputi pembatasan upaya penangkapan, pengaturan ukuran mata jarring dan penutupan musim atau daerah penangkapan.

2. Recruitment Overfishing

Pengurangan melalui penangkapan terhadap suatu stok sedemikian rupa sehingga jumlah stok induk tidak cukup banyak untuk memproduksi telur yang kemudian menghasilkan rekrut terhadap stok yang sama. Pencegahan terhadap recruitment overfishing meliputi proteksi (misalnya Melalui reservasi) terhadap sejumlah stok induk (parental stock, broodstock) yang memadai.

3. Biological Overfishing

Kombinasi dari growth overfishing dan recruitment overfishing akan terjadi manakala tingkat upaya penangkapan dalam suatu wilayah perikanan tertentu melampaui tingkat yang diperlukan untuk menghasilkan MSY. Pencegahan terhadap biological overfishing meliputi pengaturan upaya penangkapan dan pola penangkapan (fishing pattern).

4. Economic Overfishing

Terjadi bila tingkat upaya penangkapan dalam suatu wilayah perikanan melampaui tingkat yang diperlukan untuk menghadirkan MEY, yang dirumuskan sebagai perbedaan maksimum antara nilai kotor dari hasil tangkapan dan seluruh biaya dari penangkapan. Perlu dicatat banwa tingkat upaya penangkapan MEY lebih kecil daripada tingkat upaya MSY. Perbaikan pengelolaan akan menurunkan biaya produksi melalui pengurangan upaya penangkapan dengan demikian menurunkan upaya penangkapan, selain itu perbaikan pengelolaan juga akan meningkatkan pemerataan, yakni telah banyak dan/atau lebih murah tersedia makanan bagi masyarakat yang tertinggal dan kurang mampu.

5. Ecosystem Overfishing

Overfishing jenis ini dapat terjadi sebagai hasil dari suatu perubahan komposisi jenis dari suatu stok sebagai akibat dari upaya penangkapan yang berlebihan, dimana spesies target menghilang dan tidak digantikan secara penuh oleh jenis “pengganti”. Biasanya ecosystem overfishing mengakibatkan timbulnya suatu transisi dari ikan bernilai ekonomi tinggi berukuran besar kepada ikan kurang bernilai ekonomi berukuran kecil dan akhirnya kepada ikan rucah (trash fish) dan/atau invertebrata non komersial seperti ubur-ubur.

6. Malthusian Overfishing

Malthusian overfishing merupakan suatu istilah untuk mengungkapkan masuknya tenaga kerja yang tergusur dari berbagai aktifitas berbasis darat (land-based activities) kedalam perikanan, pantai dalam jumlah yang berlebihan yang berkompetisi dengan nelayan tradisional yang telah ada dan yang cenderung menggunakan cara-cara penangkapan yang bersifat merusak, seperti dinamit untuk ikan-ikan pelagis, sianida untuk ikan-ikan di terumbu karang dan/atau insektisida dibeberapa perikanan laguna dan estuarine.

Fully Exploited

Fully Exploited adalah tingkat eksploitasi pemanfaatan sumberdaya berada pada level MSY atau penangkapan ikan laut yang sudah optimal dan perlu untuk dipertahankan pemanfaatannya. Karena jika tidak dipertahankan pemanfaatannya maka hal ini akan berdampak pada berkurangnya hasil tangkapan dan memburuknya keadaan ekosistem laut sehingga tidak dapat lagi dimanfaatkan.

Menurut Permen KP Nomor PER.29/MEN/2012 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan Di Bidang Penangkapan Ikan. Tingkat pemanfaatan (eksploitasi) sumber daya ikan dikategorikan over exploited apabila jumlah tangkapan kelompok sumber daya ikan pertahun melebihi estimasi potensi yang ditetapkan. Sedangkantingkat pemanfaatan (eksploitasi) sumber daya ikan dikategorikan fully exploited apabila jumlah tangkapan kelompok sumber daya ikan pertahun berada pada rentang 80% – 100% (delapan puluh persen sampai dengan seratus persen) dari estimasi potensi yang ditetapkan.

Dalam hal tingkat pemanfaatan (eksploitasi) sumber daya ikan dikategorikan fully-exploited, dilakukan pengaturan dalam rangka mempertahankan tingkat optimal pemanfaatan sumber daya ikan dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya, melalui: a) tidak menerbitkan SIPI baru; dan/atau b) tidak melakukan perubahan SIPI yang berakibat pada meningkatnya jumlah tangkapan.

Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari overfishing dan fully exploited dapat dilakukan langkah-langkah seperti :

  1. Pembatasan jumlah hasil tangkap;
  2. Pengaturan waktu tangkap;
  3. Pengaturan ukuran hasil tangkap (ukuran panjang atau berat);
  4. Pengawasan jenis alat tangkap yang digunakan dengan menetapkan besar lubang mata jarring;
  5. Penerapan sistem zonasi dengan membagi kawasan menjadi zona-zona berdasarkan pemanfaatannya, dan
  6. Pengawasan penggunaan bahan peledak dan bahan beracun untuk menangkap ikanmisalnya contoh pelarangan alat-alat tangkap berbahaya seperti bom, racun dan pukat harimau wajib dipantau pihak berwajib.

Perhatian Pemerintah terkait peningkatan produksi perikanan dalam rangka menekan laju terjadinya overfishing, diantaranya :

1) UU No. 45 tahun 2009 tentang Perikanan (Perubahan dari UU No. 31 tahun 2004).

2) UU No. 60 tahun 2007 tentang Konservasi ikan,

3) UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Kawasan Pesisir, laut dan Pulau-pulau kecil. Kebijakan pengendalian alat tangkap melalui mekanisme perizinan,          

4) Menurut Permen KP Nomor PER.29/MEN/2012 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan Di Bidang Penangkapan Ikan.

Beberapa kapal penangkap dalam skala tertentu harus memiliki surat izin penangkapan untuk dapat beroperasi di wilayah perairan sekitar pulau maupun di Zona Ekonomi Eksklusif, khusus untuk mengatasi persoalan pencurian ikan oleh Kapal Ikan Asing dan, pemerintah menempuh beberapa cara, antara lain : a). Menempatkan armada Angkatan Laut di wilayah-wilayah perbatasan laut Indonesia. b). Membentuk satuan Polairut (Polisi Perairan dan Laut) di bawah Polda untuk mengatasi pelanggaran yang terjadi didalam wilayah perairan Indonesia. c). Membentuk satuan Pengawas Jagawana di bawah Kementerian Kehutanan untuk menjaga wilayah-wilayah konservasi laut yang berada di dalam tanggung jawab Kementerian Kehutanan.

Menurut Permen KP Nomor PER.29/MEN/2012 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan Di Bidang Penangkapan Ikan. Cara untuk mengatasi masalah over fishing dan fully exploited adalah sebagai berikut:

(1) Dalam hal tingkat pemanfaatan (eksploitasi) sumber daya ikan dikategorikan over-exploited, dilakukan pengurangan kegiatan penangkapan ikan dalam rangka mengembalikan kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya, melalui:

a. tidak memberikan perpanjangan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) yang telah habis masa berlakunya; dan/atau

b. pengurangan kapasitas alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan ikan dalam rangka mengurangi ikan hasil tangkapan.

(2) Dalam hal tingkat pemanfaatan (eksploitasi) sumber daya ikan dikategorikan fully-exploited, dilakukan pengaturan dalam rangka mempertahankan tingkat optimal pemanfaatan sumber daya ikan dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya, melalui:

  1. tidak menerbitkan SIPI baru; dan/atau
  2. tidak melakukan perubahan SIPI yang berakibat pada meningkatnya jumlah tangkapan

 

Sumber :

Permen KP Nomor PER.29/MEN/2012 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan Di Bidang Penangkapan Ikan.

 

Oleh :

ADE YUNAIFAH A., SE

 

 

Add comment


Security code
Refresh

Statistik Pengunjung

Kami memiliki 165 tamu dan tidak ada anggota online