VISI
Terciptanya sumberdaya manusia perikanan profesional, bertanggungjawab terhadap lingkungan dan kelestarian sumber-daya perikanan dan kelautan 
 
MISI

- Meningkatkan profesionalisme sumberdaya manusia BPPP Tegal

- Meningkatkan daya guna sarana dan prasarana pelatihan dan penyuluhan

- Menjalin hubungan kerjasama dengan lembaga pendidikan perikanan serta mewujudkan BPPP Tegal sebagai mitra masyarakat perikanan

 
TUGAS POKOK

Melaksanakan penyusunan bahan kebijakan, program, anggaran, penyelenggaraan, evaluasi, dan pelaporan pelatihan dan penyuluhan di bidang pelatihan
dan penyuluhan

 
MOTTO

Tanggap

Cepat

Mudah

Kompeten 

PEMBUATAN GARAM BERYODIUM

Garam konsumsi selain harus memenuhi persyaratan kadar NaCl minimal 94,7%, juga harus mengandung iodium berkisar antara 30-80 ppm (30-80 mg iodium dalam 1kg garam). Perlunya penambahan iodium ini (ditambahkan dalam bentuk KIO3 kalium iodat) dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan tubuh manusia akan zat iodium. Apabila tubuh kekurangan zat ini akan menyebabkan membesarnya kelenjar Thyroid yang lebih dikenal dengan nama penyakit gondok.

Tetapisebenarnya ada penyakit lain yang justru membahayakan yaitu tidak sempurnanya perkembangan intelegensia-kecerdasan maupun pertumbuhan tubuh yang tidak normal. Masalah terakhir inilah yang sangat membahayakan masa depan generasi muda bangsa.

Pengertian tentang Garam Beryodium

Adalah garam konsumsi yang mengandung komponen- komponen utama Natrium Clorida (NaCI) minimal 94,7%, air laut maksimal 5% dan Kalium lodat (K103) sebanyak 30-80 ppm (mg/kg) serta senyawa-senyawa lainnya.

Keppres No. 69/1994

Garam konsumsi didasarkan pada dasar hukum Keputusan Presiden Republik Indonesia No 69/1994 Tanggal 13-10-1994  tentang pengadaan garam beryodium serta SK Memperindag No. 77/M/SK/5/1995 tanggal 04-05-1995 tentang persyaratan tehnis pengolahan, pengawasan dan pelabelan garam beryodium memberikan petunjuk tehnis untuk pengadaan garam beryodium yang memenuhi syarat

Peralatan proses iodisasi

Proses iodisasi  harus dilakukan secara mekanis dan kontinyuuntuk menjamin Homogenitas kandungan iodium dalam garam, peralatan atau mesin yang di gunakan untuk iodisasi antara lain :

1. Molen

2. Mesin dengan pengering putar

3. Belt Conveyor

4. Screw Conveyor

5. Sprayer( tekanan cukup tinggi)

Cara kerja

  • Timbang garam yang akan di iodisasi 
  • Masukan garam yang akan di iodisasi ke dalam bak pengadukan yang telah di siapkan dan di ratakan permukaannya dengan ketebalan 5 Cm.
  • Masukan larutan KI03 ke dalam tabung alat sprayer yang telah di buat sesuai dengan formula yang di tentukan.
  • Lakukan penyemprotan 1/3 bagian dari kebutuhan dan di ulang secara merata sambil diaduk sampai Homogen
  • Lakukan uji hasil dengan iodine test, bila belum di dapat hasilnya yang memenuhi syarat, lanjutkan pengadukan sampai mutu terpenuhi.

 

Formula

Untuk mendapatkan garam beriodium dengan kualitas 40 – 50 PPM maka formula sebagai berikut :

  1. 1. Garam                                     : 25 ton          : 20 ton
  2. 2. KI03                                         : 1 kg               : 1 kg
  3. 3. Air pelarut KI03                      : 25  liter         : 20 liter

Adapun kebutuhan larutan Ki03 tergantung dengan jumlah garam beriodium yang akan di produksi. 

 

PROSES PEMBUATAN GARAM BERIODIUM

Bahan Baku

a. Garam

Garam yang di gunakan sebagai bahan baku adalah garam yang putih, bersih dan kering dengan kadar air maksimal 5 %. Apabila  kedua hal tersebut diatas tidak terdapat dalam dalam garam yang akan di gunakan sebagai bahan baku, maka harus dilakukan pencucian terlebih dahulu sampai putih dan bersih dan kering.

Bahan baku garam harus memenuhi persyaratan sebagai berikut

  1. Kemurnian minimal 94,7%
  2. Ukuran partikel/butir berkisar antara 1-1,5 mm.
  3. Kadar air tidak lebih dari 5%
  4. Mempunyai sifat curai.
  5. Mempunyai Bulk Density (berat jenis) kira-kira sama dengan air.

Kalium  Iodat ( Kio3)

Persyaratan umum Kalium Iodat yang digunakan yakni:

  • Untuk bahan pangan (food grade)
  • Kadar KIO3 minimal 99%
  • Kehalusan 100 mesh
  • Tidak mengandung logam berat berbahaya seperti Pb, Hg, Zn, Cu, As

Penyiapan larutan iodat yang diperlukan untuk Iodisasi dihitung dengan standar kadar iodium 50 ppm, artinya 50 iodium per kilogram garam. Perbandingan jumlah air untuk melarutkan kalium iodat dan jumlah garam yang harus dicampurkan sangat tidak seimbang. Masalah pencampuran kalium iodat, air dan garam hingga homogen dalam mesin iodisasi merupakan hal yang sangat penting.

Air

Air yang digunakan sebagai pelarut harus memenuhi syarat sebagai air minum.

Tabel Perbandingan Garam KIO3 dan Air untuk Mendapatkan Garam yang Memenuhi Syarat 50 ppm

 

Garam (kg)

KIO3 (gr)

Air (Liter)

50

2,5

0,05

100

5

0,10

200

10

0,20

300

15

0,30

400

20

0,40

500

25

0,50

600

30

0,60

700

35

0,70

800

40

0,80

900

45

0,90

1000

50

1

2000

100

2

3000

150

3

4000

200

4

5000

250

5

6000

300

6

7000

350

7

8000

400

8

9000

450

9

10.000

500

10

20.000

1000

20

30.000

1500

30

40.000

2000

40

50.000

2500

50

 

Teknologi  Proses Produksi Garam  Beryodium

Teknologi pengolahan garam beryodium dilakukan melalui  proses-proses sebagai berikut :

  • proses pencucian
  • proses penirisan / pengeringan
  • lodisasi
  • pengemasan dan pelabelan

 

Proses pencucian garam

  • Pencucian garam dimaksudkan untuk membersihkan garam dari kotoran yang terkandung dalam garam berupa pasir, lumpur dan untuk mengurangi kandungan kalsium (Ca ) Sulfat ( SO4 ) dan senyawa tak larut lainnya.
  • Sebagai larutan pencuci digunakan larutan garam jenuh atau Brine dengan kepekatan antara 20-25 Be dengan kandungan magnesium ( Mg ) mak 10 PPM. Perbandingan larutan pencuci terhadap garam minimal 1:6.
  • Larutan garam dapat dibuat  pada bak – bak dari tembok semen yang saling berhubung sehingga larutan dapat mengalir dari bak awal ke bak akhir secara limpahan (over flow )
  • Sebelum di lakukan pencucian, gumpalan garam di pecah terlebih dahulu dengan crusher sambil dialiri larutan pencuci, selanjutnya melalui selokan talang masuk kedalam bak – bak pencucian.
  • Larutan pencucian dari bak penampung dapat di daur ulang untuk mencuci kristal garam yang telah digiling. Sedangkan larutanpencucian yang sudah pekat ( melebihi 25 Be ) perlu digulirkan dengan air tawar atau air laut.
  • Proses pencucian dilakukan dengan memasukan kristalisasi garam kedalam bak-bak penampung ( tembok semen yang berisi larutan pencuci BRINE ) lalu secara mekanis garam dipindahkan dari bak pertama sampai kebak terakhir.
  • Untuk memperoleh hasil yang baik dilakukan pencucian secara bertingkat sebanyak 5-6 kali ( dapat di gunakan 5-6 bak – bak tembok semen yang ukurannya bervariasi tergantung pada kapasitas produksi garam ).
  • Pencucian garam dapat dilakukan pula dengan menggunakan peralatan mekanis seperti STATIC DRAINER, SCREW CONVEYOR atau MIXING CHAMBER. 

Proses Pengeringan Garam

pengeringan garam dilakukan dengan maksud agar Lindi garam yang masih tercampur dengan air agar tuntas, dengan cara ditiriskan dan air yangmasih ada dapat hilang, sehingga kualitas garam menjadi lebih tinggi. Pengeringan dapat dilakukan dengan jalan membuat gunung-gunungan garam dan dibiarkan sampai beberapa hari, baru kemudian disimpan dalam gudang penyimpanan sebelum  dilakukan proses iodisasi.

Proses Penirisan

  • Dengan menggunakanalat Centritue untuk mengurangi kandungan air, sehingga mempersingkat waktu pengeringan.
  • Menimbungaram di tempat terbuka dengan lahan yang tidak kedap / menahan air selama kurang lebih 4 hari.
  • Untuk mendapatkan kadar air 5%, dilakukan pengeringan lanjutan, sepertidalamtungku putar atau Oven.

Kemasan dan label

Syarat-Syarat Kemasan:

Garam konsumsi yang diproduksi untuk diperdagangkan harus dikemas dalam wadah yang tertutup rapat, kedap air atau plastik yang memiliki ketebalan 0,45-0,6 mm, dengan warna transparan.

Syarat-syarat label:

Pada wadah/kemasan garam beriodium harus tertera keterangan-keterangan yang jelas/terang yang dicetak sebagai berikut:

  • Nama Perusahaan
  • Kandungan Kalium Iodat 30-80 ppm
  • Berat isi setiap kemasan dalam satuan gram atau kg.
  • Tanggal pembuatan/produksi (Kode Produksi)
  • Nomor pendaftaran dari Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan Kementerian Kesehatan.
  • Alamat Perusahaan

Standar berat isi kemasan (netto) garam konsumsi beriodium yang diijinkan untuk beredar pada tingkat pasar adalah:

  • Isi bersih 5 kg           (5.000 gram)
  • Isi bersih 4 kg           (4.000 gram)
  • Isi bersih 3 kg           (3.000 gram)
  • Isi bersih 2 kg           (2.000 gram)
  • Isi bersih 1 kg           (1.000 gram)
  • Isi bersih 0,5 kg        (500 gram)
  • Isi bersih 0,25 kg      (250 gram)
  • Isi bersih 1 ons         (100 gram)

Cara Pengemasan:

  • Gunakan timbangan atau takaran yang memenuhi syarat kemetrologian sehingga dapat menjamin terpenuhi berat isi kemasan sesuai dengan yang tertera di label.
  • Tutup kemasan dengan menggunakan alat laminating atau alat pemanas yang dapat menjamin tidak terjadinya kebocoran pada kemasan tersebut.

PROSES PEMBUATAN GARAM BERIODIUM JENIS CURAI

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aris Kabul, 2011. Ramsol,Dirjen KP3K Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia    Jakarta.
  2. Buku Panduan Pembuatan Garam Bermutu 2002. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.Pusat Riset Wilayah Laut dan  Sumberdaya  Nonhayati. Proyek Riset Kelautan dan Perikanan .
  3. Pemberdayaan Garam Rakyat.2003. Direktorat Jendral Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan dan Perikanan
  4. Panduan Teknis Garam Beryodium 2010, perusahaan garam rakyat PT.Apel merah, Rembang

Oleh : Drajat

 

 STRUKTURAL BPPP TEGAL


Video

       
Aksi 8 Juni WOD HENKITA Pendaftaran BST
Online
Pelatihan Budidaya MOU Kerjasama
POLTEKNUSTAR