VISI
Terciptanya sumberdaya manusia perikanan profesional, bertanggungjawab terhadap lingkungan dan kelestarian sumber-daya perikanan dan kelautan 
 
MISI

- Meningkatkan profesionalisme sumberdaya manusia BPPP Tegal

- Meningkatkan daya guna sarana dan prasarana pelatihan dan penyuluhan

- Menjalin hubungan kerjasama dengan lembaga pendidikan perikanan serta mewujudkan BPPP Tegal sebagai mitra masyarakat perikanan

 
TUGAS POKOK

Melaksanakan penyusunan bahan kebijakan, program, anggaran, penyelenggaraan, evaluasi, dan pelaporan pelatihan dan penyuluhan di bidang pelatihan
dan penyuluhan

 
MOTTO

Tanggap

Cepat

Mudah

Kompeten 

Kampus dan Pendidikan Antikorupsi

Suatu paradigma yang futuris jika saat ini ada wacana atau usulan tentang kampus dan pendidikan antikorupsi. Mengapa demikian, sebab sesungguhnya kita sudah sepakat menjadikan perilaku korupsi adalah penyakit masyarakat yang kronis dan sekaligus musuh yang harus diberantas habis sebagaimana narkoba dan teroris. Akibat narkoba yang banyak dikonsumsi oleh generasi muda, kita akan kehilangan pemilik masa depan di negeri ini yang handal dan bertanggung jawab. Kita khawatir negara akan dikuasai oleh manusia-manusia yang begitu gampang menggadaikan negaranya kepada bangsa lain. Akibat teroris, kehidupan manusia terasa mencekam walau tidak semua manusia diteror. Karena yang diteror biasanya yang menjadi lawannya atau yang menghalangi kepentingannya. Sedang akibat perilaku korup, rakyat bisa menjadi kurang pangan, miskin, bangunan cepat rusak-roboh, pelakunya tidak punya malu, dan pada ujungnya bisa mendatangkan musibah. Saya menghargai maksud dan tujuan Misbahul Ulum, beliau Pengajar di Monash Institute, akivis Pusat kajian Islam dan Feminisme yang lewat tulisannya di Koran Pagi Wawasan terbit Kamis Kliwon, 22 Maret 2012 pada halaman Opini & Fentures menyuguhkan informasi yang ditunggu-tunggu kita bersama. Dalam tulisannya beliau menginformasikan bahwa pemerintah akan mulai memberikan pendidikan anti korupsi mulai tahun ajaran baru tahun 2012/2013 mendatang melalui Kementerian Pendidikan Nasional kepada anak usia dini di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini hingga ke mahasiswa di Perguruan Tinggi. Ini merupakan kabar yang amat menggembirakan sekaligus member harapan ke depan, bahwa di negara tercinta ini tidak akan dikuasai oleh para maling berdasi, insya Allah. Berikutnya penulis sajikan selengkapnya informasi dari Misbahul Ulum di atas:

Mulai Juli mendatang, pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan akan memasukkan pendidikan antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan. mulai dari pendidikan anak usia dini sampai ke perguruan tinggi. Upaya pemerintah ini sudah sepatutnya diaparesiasi dengan baik oleh semua kalangan. Terlebih oleh kalangan perguruan tinggi sebagai penjaga moral bangsa. Disamping itu, pemerintah juga harus melakukan upaya-upaya keras dan berkesinambungan sebagai tindak-lanjutnya. Sebab, sejatinya kebijakan ini tidak hanya sekedar bertujuan memberantas korupsi saja. Tetapi lebih jauh, melakukan pemotongan terhadap generasi korup sejak dini. Munculnya kebijakan pendidikan anti korupsi ini setidaknya memiliki dua makna sekaligus. Pertama, makna positif, yaitu muncul harapan terberantasnya tindakan-tindakan korupsi. Kedua, makna negative, yaitu sebagai tamparan keras bagi bangsa Indonesia, bahwa korupsi memang telah menjalar ke segala sendi kehidupan. Bahkan telah akut. sehingga harus segsra dibasmi.

 

Kampus dan Korupsi

Kenyataan di lapangan menggambarkan bahwa sekian banyak pelaku korupsi adalah para pejabat negara yang duduk dalam lingkaran kekuasaan. Dan diakui atau tidak, para penyelenggara negara yang korup itu sebagaian besar adalah seseorang yang pernah duduk dalam bangku perkuliahan dan menyandang predikat sebagai “mahasiswa”. Aneh memang, disaat menjadi mahasiswa seolah idealisme masih melekat kuat, tetapi ketika duduk dalam kursi kekuasaan, idealismenya tak berlaku lagi.

Jika difikir sederhanya, harusnya seorang yang telah purna dari perguruan tinggi adalah seseorang yang memiliki integritas dan kredibilitas tinggi. Tetapi nyatanya ketika mereka duduk dalam struktur negara, tak ada bedanya. Mereka juga menjadi aktor-aktor korup. Seolah pendidikan di kampus yang telah mereka jalani tak memberikan pengaruh apa-apa.

Sesungguhnya kampus adalah miniature negara. Di dalamnya tidak hanya terdapat struktur kepemimpinan yang menyerupai negara. Tetapi juga terdapat calon-calon pemimpin bangsa yang di tempa dengan nilai-nilai luhur guna menjadi pemimpin bangsa di masa mendatang. Korupsi sebenarnya bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Bahkan di kampus yang dianggap tempat suci dan sakral juga tidak luput dari tindakan korup. Banyak oknum-oknum kampus (mahasiswa, dosen) yang juga terlibat praktek korupsi. Mulai dari korupsi jam mengajar yang dilakukan oleh dosen sampai korupsi uang SPP dari orang tua yang dilakukan oleh mahasiswa. Oleh sebab itulah pendidikan antikorupsi menjadi harga mati. Khususnya di perguruan tinggi.

Bibit perilaku korup sebenarnya sudah nampak pada mahasiswa, saat dirinya masih menjalani kehidupan perkuliahan di kampus. Salah satunya adalah tindakan tidak jujur. Tindakan ini terselubung, membahayakan, dan sekaligus menjadi pintu utama penyebab korupsi. Akan tetapi, ketidak jujuran mahasiswa seolah sudah menjadi hal yang mafhum dan menjadi rahasia umum. Mulai dari budaya contek menyontek saat UTS dan UAS, nitip absen kala tidakberangkat kuliah, menggunakan jasa ghost writer saat mengerjakan tugas, sampe membeli skripsi sebagai syarat lulus.

Jika perilaku-perilaku ketidak jujuran kecil ini menjadi kebiasaan mahasiswa sejak dini, tentu tidak mengherankan jika mereka kelak akan tampil menjadi pemimpin yang tidak jujur. Sebab sudah menjadi kebiasaan.

 

Memotong Generasi Korup

Selama ini dalam pandangan masyarakat umum, tindakan korup seolah hanya dilakukan oleh para generasi tua yang notabenenya adalah penyelenggara negara yang duduk dalam lingkaran kekuasaan saja. Namun, fakta juga menunjukkan sekian banyak tersangka koruptor itu juga didominasi oleh pejabat negara yang berasal dari kalangan muda. Sebut saja Gayus Tambunan, M. Nazarudin, Melinda Dei, dan yang paling baru adalah Dhana Widiyatmika dan Ajib Hamdani. Semuanya adalah koruptor-koruptor muda. Dan tentu masih banyak yang belum terungkap.

Kondisi seperti ini tentu sudah sangat memprihatinkan, korupsi sudah mewabah di generasi muda. Generasi tua dan generasi muda tak ada bedanya. Semua sama korupnya. Padahal generasi muda saat ini adalah pemimpin di masa yang akan datang. Seharusnya ia memiliki semangat juang yang tinggi. Oleh karena itulah, harus dilakukan pemotongan generasi korup sejak dini. Generasi muda (mahasiswa) harus dijauhkan dari generasi tua agar tidak terpengaruh dengan perilaku korup.

 

Budaya Jujur

Kampus merupakan simbol budaya unggul yang menjadikan meritokrasi sebagai basisnya. Sistem meritokrasi menjadikan integritas dan prestasi sebagai landasan. Pendidikan anti-korupsi seharusnya tak perlu ada manakala setiap mahasiswa memiliki integritas yang baik, dan kampus benar-benar menjadikan meritokrasi sebagai basis pengajarannya. Pendidikan antikorupsi sejatinya hanyalah alat untuk meminimalisir tindakan korup secara formal melalui jalur pendidikan. Dan keberhasilannyapun dapat dilihat dipermukaan saja. Belum tentu seseorang yang telah mendapatkan pendidikan antikorupsi lantas tidak korup. Sebab tindakan korup adalah tindakan laten yang disebabkan kebiasaan tindakan tidak jujur.

Untuk itu, selain pengajaran pendidikan antikorupsi melalui jalur pendidikan formal, hal yang tak kalah penting adalah penanaman budaya jujur pada diri mahasiswa. Ini sebagai tindak lanjut dan aplikasi pendidikan antikorupsi yang mereka dapatkan.Harus diakui memang, berbagai perilaku korup itu umumnya diawali dari kebiasaan tidak jujur. Dan menurut Thomas Lickona (1992) budaya tidak jujur adalah salah satu tanda bangsa menuju ke jurang kehancuran. Dan harus dicatat pula “ketidakjujuran sekali akan menuntut ketidakjujuran lanjutan guna menutup ketidakjujuran pertama, dan begitu seterusnya”. Jika tindakan tidak jujur menjadi budaya generasi saat ini, merujuk pendapat Thomas Lickona, maka tinggal menunggu saat-saat kehancuran bangsa. Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

(Drs. Munasor, MM, Widyaiswara BPPP Tegal)

 

 

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh

 STRUKTURAL BPPP TEGAL


Video

       
Aksi 8 Juni WOD HENKITA Pendaftaran BST
Online
Pelatihan Budidaya MOU Kerjasama
POLTEKNUSTAR